Rabu, 19 Januari 2011

Sekejapku bersama Izrail ….

Oleh: Herlia Annisa | 19 January 2011
| 18:39 WIB


Aku tak tahan, aku mau mati saja!
Sepertinya hidup sudah tak lagi
punya muatan, kosong dan hampa.
Kiri, kanan, depan, belakang yang
terlihat hanya tembok-tembok yang
menjulang tinggi. Menghalangi
pandanganku, gelapkan mataku
akan hayal, angan, dan nyata.
“Arghhhh,, aku ingin matiiii…!!!”
jeritku.
“Benarkah?” tanya seseorang tiba-
tiba.
Aku terperanjat, seorang laki-laki
berjubah kelabu terduduk
disampingku. kepalanya ditutupi
oleh tudung jubah yang juga
kelabu. Yang terlihat hanyalah
sebagian rambut yang terjuntai
hingga menutupi pelipisnya.
“Siapa kamu? Kenapa kamu tiba-tiba
ada disampingku? Bagaimana kamu
bisa masuk kekamarku ?”
Aku memberondong pria misterius
itu dengan pertanyaan bertubi.
Tentu saja aku heran. Bagaimana
orang ini bisa masuk kedalam
kamar lalu duduk disampingku
tanpa aku sadari. Sementara pintu
kamar semenjak tadi siang telah
kukunci rapat-rapat.
“Hey,, tenang! Pelanlah sedikit, tak
usah terburu-buru seperti itu.
Perkenalkan,,,, aku Izrail. ” jawabnya
sambil berdiri lalu membuka tudung
kepalanya.
Aku melompat karena kaget. Bukan
hanya karena dia menyebut nama
Izrail tapi lebih karena melihat seraut
wajah mempesona yang sempat
tersembunyi dibalik jubah
kelabunya tadi. Ya Tuhan, siapakah
makhluk misterius ini? Benarkah dia
Izrail sang malaikat maut? Aku tak
percaya! Makhluk ini adalah seorang
laki-laki yang terlalu tampan untuk
menyandang predikat sebagai
pencabut nyawa.
“Heh!!! Jangan ngarang kamu.
Mustahil kamu Izrail!” cibirku sinis.
“Kenapa! Kamu tidak percaya?”
“Tentu saja tidak. Selama ini aku
selalu dijejali cerita tentang sosok
Izrail yang menyeramkan. ”
“Hey,, hey,, kamu pikir malaikat
maut itu harus seram dan buruk
rupa ya? Sungguh sebuah
pemikiran yang dangkal. ” ujarnya
sambil tersenyum simpul penuh
misteri.
Aku terkesiap menatap senyumnya.
Ah, tidak! Terpesona lebih tepatnya.
“Tentu saja harus menyeramkan.
Izrail itu kan berprofesi sebagai
pencabut nyawa. Melihat sosokmu
yang menawan seperti ini
bagaimana mungkin manusia takut
menghadapi kematian. ” aku
terkekeh.
“Bagaimana bila kubuktikan kalau
aku memang sang pencabut
nyawa !” dia menantangku.
“Oh,, silahkan,, silahkan,, aku tak
percaya.” jawabku sambil tertawa
lepas.
“Lihatlah kemari. Sesungguhnya
bukan wujudku yang membuat
kalian -para manusia- ketakutan
menghadapi mati, tapi ini !” makhluk
itu berbicara dan lalu merentangkan
kedua tangannya yang tertutupi
jubah.
Susana berubah mencekam
seketika. Angin dingin serta merta
menghadirkan perasaan tak
menentu dalam diriku. Lalu tiba-tiba
kamarku dipenuhi kabut putih yang
tebal, entah darimana kabut itu
berasal. Aku tak mengerti! Tak
berapa lama kabut pun memudar
berganti merah. Tampak api yang
tengah menyala-nyala menjilati
sesosok tubuh perempuan yang
menggeliat-geliat bagai daun kering
yang terbakar. Dia tampak begitu
kesakitan, jeritannya membahana
memenuhi rongga kepalaku.
“Itu,, itu seperti aku?” tanyaku
sambil menunjuk ketengah kobaran
api.
“Iya,, itu kamu yang sedang
terpanggang di neraka karena dosa-
dosamu. ”
“Dosa-dosaku?”
“Tentu saja.. Dosa-dosamu yang
bertumpuk hingga melebihi
tingginya gunung. Kamu tentunya
belum lupa kan apa saja dosa-
dosamu itu ?” setengah berbisik dia
bertanya padaku.
“Bersiaplah! Aku akan mengambil
nyawamu sekarang!” makhluk itu
berujar seraya mendekatkan
wajahnya padaku.
Aku bergidik, tak lagi terpesona.
Berbagai perasaan bercampur aduk
menjadi satu. Antara takut, seram,
ngeri, heran, dan tak percaya. Entah
rasa seperti apa yang menjadi
penguasa dalam hatiku sekarang ini.
Ya Tuhan! Ternyata dia memang
benar Izrail.
“Bagaimana, kamu sudah siap?”
Izrail sekali lagi mengajukan
pertanyaan kepadaku.
“Aku,,,, aku….”
Aku tak sempat menjawab, Izrail
telah lebih dulu mencengkeram
leherku. Mencekiknya dengan erat
sembari mengangkat tubuhku
hingga tak menapaki bumi. Aku
sesak, tak mampu bernafas. Sekuat
tenaga kaki dan tanganku meronta
berusaha melepaskan diri dari
cengkeraman Izrail.
“Stop,,, hentikan,,, sakit…!!!!”
Aku berusaha tuk berkata-kata, tapi
suaraku tercekat ditenggorokan.
Diantara keremangan malam dan
kesadaran yang mulai menurun
kulihat Izrail tertawa-tawa penuh
rasa puas. Tiba-tiba Izrail
melonggarkan cengkeramannya
dan lalu melepaskan tangannya dari
leherku. Aku megap-megap bagai
ikan yang kekeringan. Dengan
napas tersenggal aku berusaha
menghirup sebanyak mungkin
oksigen untuk memenuhi rongga
paruku yang tadi sempat kehilangan
udara.
“Kenapa kamu minta berhenti?
Bukankah tadi kamu menjerit-jerit
inginkan mati. ” Izrail bertanya
padaku.
“Aku,, aku belum siap. Aku tak
sanggup menahan rasa sakitnya.”
jawabku.
“Itu belum seberapa. Mati jauh lebih
sakit. Lain kali jangan sesumbar
ingin mati. Kamu pikir
bercengkrama denganku itu enak
ya ?” cibir Izrail penuh kemenangan.
“Dan satu lagi! Jangan pernah
memanggil-manggil kematian
sebelum waktunya. Aku tidak suka!”
lanjut Izrail.
Kemudian perlahan Izrail dan segala
kengerian yang tadi sempat
ditimbulkannya menghilang dari
hadapanku. Meninggalkan berbagai
pertanyaan yang mungkin tak kan
pernah terjawab.

(Taken from : kompasiana/kompas.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar